Warning: Missing argument 1 for get_post(), called in /home/barata19/public_html/wp-content/plugins/wordpress-seo/frontend/class-opengraph.php on line 489 and defined in /home/barata19/public_html/wp-includes/post.php on line 380
Kamis, 24 April 2014
Follow Us :
RSS
Kamis, 24 April 2014
Pergerakan Kebangsaan

Wilfrida Soik Harus Bebas

By Holong - Mon Sep 30, 9:44 am

WILFRIDA SOIK

JAKARTA, BARATAMEDIA – Wilfrida Soik, diancam hukuman gantung oleh penegak hukum Malaysia, setelah didakwa melakukan pembunuhan berencana atas majikannya pada 2010 silam. Hari ini, Senin (30/09), TKI asal NTT ini akan menjalani sidang dengan agenda putusan sela. Politisi PDIP Rieke Diah Pitaloka menegaskan, Wilfrida harus bebas.

Rieke berharap, Mahkamah Kota Bharu, Malaysia, membebaskan Wilfrida dari segala tuduhan. Menurut Rieke, kasus Wilfrida sudah menyangkut harga diri bangsa.

“Masalah Wilfrida bukan sekadar menyelamatkan nyawa seorang gadis miskin. Ini juga soal keadilan dan kemanusiaan. Ini soal harga diri bangsa. Segala upaya harus diupayakan untuk selamatkan nyawa rakyat,” kata Rieke Diah Pitaloka di Malaysia, Senin (30/09).

Rieke berujar, persidangan sela hari ini sangat penting demi menyelamatkan Wilfrida. Dia menjelaskan, dalam tata hukum Malaysia, sidang kelima ini mengagendakan putusan sela bagi Wilfrida.

“Kalau hakim dalam sidang hari ini menerima tuntutan jaksa, yakni Penal Code Pasal 302 (tentang pembunuhan berencana), maka Wilfrida dicap melakukan pembunuhan berencana. Itu artinya dia divonis mati, hukuman gantung sampai mati,” jelasnya.

Sebaliknya, sambung Rieke, jika hakim menolak tuntutan Jaksa, maka Wilfrida tidak terbukti melakukan pembunuhan berencana.

“Kalau tuntutan jaksa ditolak, kita bisa memperjuangkan Wilfrida minimal hanya terkena Penal Code Pasal 304, pembunuhan tak berencana dengan vonis penjara seumur hidup. Tapi target kita, Wilfrida dibebaskan karena sebenarnya terbukti dia gadis di bawah umur,” tuturnya.

Rieke memastikan akan datang ke ruang sidah bersama keluarga Wilfrida. Dia berharap. Rakyat Indonesia tetap memberikan dukungan melalui petisa change.org/savewilfrida.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto sudah terbang ke Malaysia, Minggu (29/09), khusus untuk memantau langsung perkembangan kasus Wilfrida.

Setibanya di Malyasia, Prabowo langsung bertemu dengan tim pengacara Wilfrida Soik yang telah ditunjuknya untuk mengawal kasus tersebut. Mereka adalah Tan Sri Dr Muhammad Shafee Abdullah serta asistennya Ms Tania Scivetti.

Terpisah, anggota Komisi IX DPR Poempida Hidayatullah menyampaikan, dalam proses persidangan sebenarnya, sulit untuk ditentukan apakah hari ini memang final pengambilan vonis, atau masih bisa dilakukan pembelaan dengan temuan-temuan bukti-bukti baru.

Ditambahkan, jika memang tidak ada bukti-bukti baru, maka bisa saja ini merupakan vonis.
Namun, lanjutnya, pihak pengacara bisa memakai dalil ‘self defence’ (bela diri) atau ‘temporary insanity’ (tak sadarkan diri sementara karena panik dan marah yang dalam).

“Namun saya tidak tahu persis hukum di Malaysia dapat memanfaatkan dalil tersebut untuk meringankan hukuman atau membebaskan Wilfrida, atau tidak,” ujar Poempida.

Yang memberatkan, menurut Poempida, ketika diperiksa, Wilfrida sudah mengaku bahwa dia memang membunuh majikannya dengan pisau. Di paspor pun, Wilfrida memang tertulis lahir pada tahun 1989.

“Ini juga memberatkan, karena Wilfrida tidak dapat dianggap di bawah umur saat bekerja. Inilah akibat lemahnya kontrol pembuatan paspor di Indonesia. Pihak Malaysia hanya mereferensi pada dokumen yang dikeluarkan Pemerintah RI,” papar Poempida.

Menurut politisi Golkar ini, satu-satunya harapan bagi bebasnya Wilfrida, adalah pertimbangan kemanusiaan dari Pemerintah Malaysia untuk mendapatkan grasi. Namun, Pemerintah RI pun dapat melakukan diplomasi ‘barter’, dengan menawarkan grasi untuk kasus yang serupa atau mirip, yang menimpa warga Malaysia di Indonesia. (fys)

Leave a Reply