Warning: Missing argument 1 for get_post(), called in /home/barata19/public_html/wp-content/plugins/wordpress-seo/frontend/class-opengraph.php on line 489 and defined in /home/barata19/public_html/wp-includes/post.php on line 380
Kamis, 17 April 2014
Follow Us :
RSS
Kamis, 17 April 2014
Pergerakan Kebangsaan

Hajrianto : Kurang Demokratis Oke, Asal Tidak Korupsi!

Photo Gallery1 PhotoBy Azis - Mon Sep 09, 2:29 pm

HAJRIANTO THOHARI

JAKARTA, BARATAMEDIA – Menjelang Pileg (Pemilu Legislatif) bulan April 2014 dan Pilpres ( Pemilu Presiden) bulan Juli 2014, kembali marak disuarakan partisipasi masyarakat yang belakangan ini dirasakan sangat rendah dalam proses pemilihan umum langsung.

Untuk mendapatkan tanggapan dari seorang politisi Partai Golkar, BARATAMEDIA mengirim pertanyaan kritis kepada salah seorang Ketua DPP Partai Golkar Hajrianto Thohari.

Berikut ini tanggapannya :

Hajrianto memulai komentarnya dengan menegaskan bahwa, “partisipasi rakyat dalam Pemilu makin rendah, karena parpol terus mendapatkan kritik keras dan tajam secara terbuka.Terutama terkait dengan perilaku koruptif para kadernya. Memang korupsi tidak hanya dilakukan oleh kader parpol atau pejabat-pejabat yang terkait dengan parpol, tetapi pemberitaan terhadap kader parpol yang tersangkut korupsi dilakukan secara sangat dramatis”.

Lebih jauh Wakil Ketua MPR RI itu mengatakan, “belum lagi dengan kinerja DPR yang terus disorot sebagai sangat negatif. Nah, pemilu di negeri kita Indonesia ini kan pesertanya parpol”. Sementara itu, “UUD 45 juga menegaskan bahwa peserta pemilu adalah parpol. Bahkan Pemilu Presiden pun pada sejatinya pesertanya adalah parpol juga”.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, 1993-1998 itu menguraikan bahwa, “peserta pemilu legislatif dan Pilpres pada sejatinya bukanlah Caleg atau Capres, melainkan parpol juga. Pasalnya, parpol yang berhak mengajukan caleg dan capres. Maka buruknya opini publik terhadap parpol sekarang ini, berdampak pada menurunnya partisipasi masyarakat dalam Pemilu”.

Pria kelahiran Karanganyar 26 Juni 1960 ini bersikukuh bahwa, “untuk mengatasinya tidak ada cara lain kecuali parpol harus berdiri di barisan terdepan dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi. Parpol tidak boleh lagi mbulet dalam mengambil keputusan terhadap kader-kadernya yang terseret korupsi”.

Hajrianto Thohari yang mengenyam pendidikan Program Doktor Antropologi UI (Universitas Indonesia) mengakui adanya kenyataan bahwa, “langkanya atau minimnya tindakan drastis dari parpol terhadap kader-kadernya yang tersangkut korupsi menjadikan rakyat semakin kurang percaya pada parpol”.

Pria yang suka didapuk sebagai juru doa ketika ada acara di forum Majelis Permusyawaratan Rakyat itu berkata blak – blakan, “bahkan ada tuduhan — benar atau salah– bahwa parpol yang menjadi mesin di belakang perilaku korupsi untuk kepentingan pendanaan parpol. Opini semacam ini termakan oleh publik. Padahal belum tentu benar! ”

Ketua Dewan Penasehat Lembaga Karatedo Indonesia/LEMKARI (2010-2015) mengatakan, “intinya, parpol harus membangun citra baru dalam kaitannya dengan maraknya korupsi.”

Pada akhir keterangannya , Hajrianto yang pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris PH (Pengurus Harian) PP Muhammadiyah (2000 – 2005)  itu dengan mantap mengatakan, “tuntutan rakyat terhadap kebebasan dan demokrasi sebenarnya tidak lah terlalu tinggi. Tetapi rakyat sangat menuntut penyelenggara negara yang bersih dari korupsi. Bahkan bagi rakyat tidak terlalu bebas dan demokratis juga tidak mengapa, asal saja tidak korupsi!”.

(Penyunting : Eko Ylianto)

Photo Gallery

Leave a Reply